Andaikan ‘mimpi’ merupakan kata kerja, maka ia akan mendaki puncak cita tertinggi, menyelam ke dasar demi mendapatkan mutiara impian, membangun peradaban tak tertaklukkan, dan menorehkan sejarah keagungan. Jika ‘mimpi’ adalah kata benda, maka ia akan menjadi air bagi para musafir di tengah gurun perjuangan, menjadi angih yang menghembuskan para penjelajah menaklukkan daratan kesuksesan, dan menjadi peta bagi pencari harta karun terindah dalam peti kemulaan hidup. Itulah mimpi.
gairah dalam bermimpi
Terima kasih telah bergabung dalam jejak para pemimpi, semoga anda dapat merasakan gairah disetiap jengkalnya.
Laman
Jumat, 26 April 2013
Rindu pada butir-butir kata yang seakan terlupa
entah apa dan mengapa, belakangan ini saya merasa jauh dengan aktivitas tulis menulis. Sebuah kecintaanku dulu. entah apa dan mengapa, jemari saya sulit menggoreskan kata demi kata yang dulu menyertainya. entah apa dan mengapa, titik-titik tinta terasa membeku saat ia menetesi lembar-lembar kosong yang dulu ia hiasi. entah apa dan mengapa, semangat saya kian menciut untuk terus melukiskan pelangi manfaat pada langit-langit karya. entahlah, mungkin hati sedang tertukar atau gairah sedang berdiam. entahlah...
saya tidak tahu hari itu kapan, ketika jemariku kembali menetesi lembar-lembar karya untuk menaburkan benih-benih amal dan manfaat kepada sesama. yang pasti, saya yakin jika satu saat nanti ia akan kembali duduk di sisiku.. entahlah...
Rabu, 11 Mei 2011
hujan yang tak pernah melupakan awan
butir-butir lembut berjatuhan
menetes membasahi bumi
daun-daun, gedung-gedung, dan semua hamparan tanah
syahdu berbalut nikmat dari-Nya
kata mereka
lihatlah, mereka yang mengais secuil harapan
dibalik deburan tetesan itu
berharap ia terus menyiram tak henti
bodoh sekali
kau tahu mengapa tetesan itu selalu ditunggu?
aku tidak,
mereka hanya ingin kau ada disana
menyejukkan jiwamu yang keruh
sedang aku, tidak, aku tidak butuh tetesan itu
aku bukanlah pohon yang selalu berharap hujan turun
aku bukan pula sungai yang hanya mengalir karna ada air
aku adalah diriku, persetan dengan alam
aku adalah sekarang, peduli apa dengan masa lalu
aku adalah meng-aku
kau yang ada di sana
yang berharap tetesan itu terus berjatuhan
lupakan saja, tidak ada yang lebih baik
melainkan mengubur harapan itu
benamkan nafasmu segera,
dan ikut bersamaku
sebab kita tidak lagi berada di kenyataan,
sebab kita sudah mati
engkau tidak labih dari mayat berjalan
tubuh hina yang tak berguna
kecuali engkau berkorban demi sebuah harapan
maka engkau layak hidup
harapan adalah sesuatu yang baik,
mungkin yang terbaik
hanya mayat sepertiku yang tak memiliki harapan
ketahuilah ada sejuta harapan
bersama tetesan hujan
bagaimanpun besarnya harapan itu
sadarlah, hujan tak pernah melupakan awan
bongkahan di ketinggian langit impian
menghasilkan hujan harapan
maknanya: puisi ini mengajarkan bahwa hidup harus memiliki harapan,
hanya mayat(orang yang sudah mati) yang tidak memiliki harapan.
aku : orang yang sudah mati
kau : orang yang diajak mati saja jika tidak memiliki harapan.
semaga bermanfaat, salam sahabat pemimpi...
menetes membasahi bumi
daun-daun, gedung-gedung, dan semua hamparan tanah
syahdu berbalut nikmat dari-Nya
kata mereka
lihatlah, mereka yang mengais secuil harapan
dibalik deburan tetesan itu
berharap ia terus menyiram tak henti
bodoh sekali
kau tahu mengapa tetesan itu selalu ditunggu?
aku tidak,
mereka hanya ingin kau ada disana
menyejukkan jiwamu yang keruh
sedang aku, tidak, aku tidak butuh tetesan itu
aku bukanlah pohon yang selalu berharap hujan turun
aku bukan pula sungai yang hanya mengalir karna ada air
aku adalah diriku, persetan dengan alam
aku adalah sekarang, peduli apa dengan masa lalu
aku adalah meng-aku
kau yang ada di sana
yang berharap tetesan itu terus berjatuhan
lupakan saja, tidak ada yang lebih baik
melainkan mengubur harapan itu
benamkan nafasmu segera,
dan ikut bersamaku
sebab kita tidak lagi berada di kenyataan,
sebab kita sudah mati
engkau tidak labih dari mayat berjalan
tubuh hina yang tak berguna
kecuali engkau berkorban demi sebuah harapan
maka engkau layak hidup
harapan adalah sesuatu yang baik,
mungkin yang terbaik
hanya mayat sepertiku yang tak memiliki harapan
ketahuilah ada sejuta harapan
bersama tetesan hujan
bagaimanpun besarnya harapan itu
sadarlah, hujan tak pernah melupakan awan
bongkahan di ketinggian langit impian
menghasilkan hujan harapan
maknanya: puisi ini mengajarkan bahwa hidup harus memiliki harapan,
hanya mayat(orang yang sudah mati) yang tidak memiliki harapan.
aku : orang yang sudah mati
kau : orang yang diajak mati saja jika tidak memiliki harapan.
semaga bermanfaat, salam sahabat pemimpi...
Rabu, 13 April 2011
hari-hari dalam pelukan ibu kota (part 1)
Hari itu terik sekali. Matahari seakan kian dekat saja. berbulir-bulir keringat berjatuhan. ditambah lagi 'pekikan' kendaraan yang meraung-raung 'pesakitan'. Jangan kau tanya soal debu di kota ini, berhamburan di udara bahkan hampir mengalahkan jumlah molekul 02. sepertinya tanah yang kini kuinjak sudah sangat tidak tahan diperlakukan sedemikian rupa. kulirik sedikit pamflet besar di depan toko seberang, PASAR SENEN JAKARTA PUSAT, tulisnya.
"kak, kasihani saya, sejak kemarin belum makan" suara itu membuatku berpaling ke sebelah kanan, mengurung niat beranjak masuk agkot. Kulihat seorang anak kecil menggunakan pakaian kumuh, rambut acak-acakan, wajah coreng moreng, dan perempuan. "kasihani saya kak, saya tidak punya uang untuk beli makanan", ibanya lagi berharap aku mengeluarkan receh(jika perlu lembar 50.000), lalu menyerahkan padanya. "kamu belum makan? orang tuamu kemana?" anak itu hanya cemberut, seakan tak ingin menjawab. "hmm.. baiklah, ayo ikut kakak, kita beli nasi di warung sana" aku melangkah menuju warung nasi terdekat. saat kutolehkan kepala ke belakang, ternyata gadis kecil itu tak mengikuti. ia menatap dengan pandangan kosong.
"ayo, katanya kamu belum makan. sini kakak beliin. kamu pilih lauknya sendiri" ucapku padanya yang mematung. "kenapa? kamu tidak suka makan disini? kita cari warung lain?" tanyaku aneh. dia masih saja memegang sebuah plastik bungkus permen yang ia gunakan untuk menampung 'recehan' orang yang berbelas kasih. karena aku harus buru-buru, kugandeng tangannya ke warung itu. lalu memesan sebungkus nasi.
"Sudah kan? sana makanlah, nanti kamu sakit" ucapku sambil menyerahkan bungkusan nasi tersebut. dia hanya berdiam. juga tidak mengambil bungkusan nasi itu. "sebanarnya kak" ucapnya lirih sambil tetap menunduk. "saya berbohong kalau saya belum makan sejak kemarin. tadi pagi juga saya sudah makan, walau cuma sisa-sisa orang. dan itu saya makan bersama-sama dengan 16 teman yang lain. kami bertujuh belas semuanya berprofesi sebagai peminta-minta. kami berangkat pagi dan pulang malam. setiap orang punya wilayahnya masing-masing. setiap harinya kami harus memenuhi target om john(sebut saja demikian) yaitu 100 ribu. jika tidak kami akan dihukum." dia menarik nafas pelan. menegadah dan berkata lagi, "bahkan kami tidak boleh menerima apapun dari orang lain selain uang. makanya saya tidak berani menerima nasi dari kakak. karena kami tidak memiliki orang tua, jadi kami terpaksa menurut." sekejap kemudian gadis kecil itu nan tak berdosa meski ia berbohong(menurut kasihanku) itu berlari pergi. "terima kasih banyak ya kak" teriaknya bersama bayangannya yang menjauh dan menghilang.
aku masih menggenggam erat plastik dengan bungkusan nasi di dalamnya, yang ku beli beberapa saat yang lalu untuk seorang anak yang juga beberapa saat yang lalu menghilang pergi. lidahku bahkan terlalu kaku untuk sekedar berkata, "tidak apa-apa, ambil saja nasi ini, makan ditempat yang kira-kira om john tidak tahu".
tidak tahu mengapa, pengakuan anak tadi membuat parasaanku ngilu. di kota ini juga ternyata masih ada saja orang-orang tidak bertanggung jawab memanfaatkan anak-anak kecil yang sudah tak berkeluarga sebagai 'ladang' usahanya. memeras masa kanak-kanak mereka yang seharusnya dihabiskan dengan belajar dan bermain. merenggut paksa hak mereka untuk bebas. kejam sekali.
terik matahari seakan meredup, kurasa ia juga ingin meneteskan air mata melihat penderitaan berjuta-juta manusia lain yang bernasip seperti gadis kecil tadi. tapi bagi para kaum berdasi yang duduk di kursi malasnya di ruangan sana, matahari ini tetap terasa panas untuk sekedar melihat rakyatnya yang menderita. sepanas api neraka yang menjilat-jilat, ingin segera menelan mentah-mentah tubuh para pemakan hasil keringat rakyatnya sendiri.
semoga bacaan ini bermanfaat
salam para pemimpi
"kak, kasihani saya, sejak kemarin belum makan" suara itu membuatku berpaling ke sebelah kanan, mengurung niat beranjak masuk agkot. Kulihat seorang anak kecil menggunakan pakaian kumuh, rambut acak-acakan, wajah coreng moreng, dan perempuan. "kasihani saya kak, saya tidak punya uang untuk beli makanan", ibanya lagi berharap aku mengeluarkan receh(jika perlu lembar 50.000), lalu menyerahkan padanya. "kamu belum makan? orang tuamu kemana?" anak itu hanya cemberut, seakan tak ingin menjawab. "hmm.. baiklah, ayo ikut kakak, kita beli nasi di warung sana" aku melangkah menuju warung nasi terdekat. saat kutolehkan kepala ke belakang, ternyata gadis kecil itu tak mengikuti. ia menatap dengan pandangan kosong.
"ayo, katanya kamu belum makan. sini kakak beliin. kamu pilih lauknya sendiri" ucapku padanya yang mematung. "kenapa? kamu tidak suka makan disini? kita cari warung lain?" tanyaku aneh. dia masih saja memegang sebuah plastik bungkus permen yang ia gunakan untuk menampung 'recehan' orang yang berbelas kasih. karena aku harus buru-buru, kugandeng tangannya ke warung itu. lalu memesan sebungkus nasi.
"Sudah kan? sana makanlah, nanti kamu sakit" ucapku sambil menyerahkan bungkusan nasi tersebut. dia hanya berdiam. juga tidak mengambil bungkusan nasi itu. "sebanarnya kak" ucapnya lirih sambil tetap menunduk. "saya berbohong kalau saya belum makan sejak kemarin. tadi pagi juga saya sudah makan, walau cuma sisa-sisa orang. dan itu saya makan bersama-sama dengan 16 teman yang lain. kami bertujuh belas semuanya berprofesi sebagai peminta-minta. kami berangkat pagi dan pulang malam. setiap orang punya wilayahnya masing-masing. setiap harinya kami harus memenuhi target om john(sebut saja demikian) yaitu 100 ribu. jika tidak kami akan dihukum." dia menarik nafas pelan. menegadah dan berkata lagi, "bahkan kami tidak boleh menerima apapun dari orang lain selain uang. makanya saya tidak berani menerima nasi dari kakak. karena kami tidak memiliki orang tua, jadi kami terpaksa menurut." sekejap kemudian gadis kecil itu nan tak berdosa meski ia berbohong(menurut kasihanku) itu berlari pergi. "terima kasih banyak ya kak" teriaknya bersama bayangannya yang menjauh dan menghilang.
aku masih menggenggam erat plastik dengan bungkusan nasi di dalamnya, yang ku beli beberapa saat yang lalu untuk seorang anak yang juga beberapa saat yang lalu menghilang pergi. lidahku bahkan terlalu kaku untuk sekedar berkata, "tidak apa-apa, ambil saja nasi ini, makan ditempat yang kira-kira om john tidak tahu".
tidak tahu mengapa, pengakuan anak tadi membuat parasaanku ngilu. di kota ini juga ternyata masih ada saja orang-orang tidak bertanggung jawab memanfaatkan anak-anak kecil yang sudah tak berkeluarga sebagai 'ladang' usahanya. memeras masa kanak-kanak mereka yang seharusnya dihabiskan dengan belajar dan bermain. merenggut paksa hak mereka untuk bebas. kejam sekali.
terik matahari seakan meredup, kurasa ia juga ingin meneteskan air mata melihat penderitaan berjuta-juta manusia lain yang bernasip seperti gadis kecil tadi. tapi bagi para kaum berdasi yang duduk di kursi malasnya di ruangan sana, matahari ini tetap terasa panas untuk sekedar melihat rakyatnya yang menderita. sepanas api neraka yang menjilat-jilat, ingin segera menelan mentah-mentah tubuh para pemakan hasil keringat rakyatnya sendiri.
semoga bacaan ini bermanfaat
salam para pemimpi
Mengomunikasikan bencana alam
Masih segar dalam ingatan kita musibah besar yang menimpa Jepang pada 11 maret yang lalu. Gempa yang berkekuatan 8,9 skala richter di susul dengan tsunami tersebut memakan korban lebih dari 10.000 jiwa dan sekitar 10.000 lainnya masih belum diketahui keberadaannya. Miyagi, Iwate dan beberapa kota yang lain telah luluh lantak akibat air laut yang ‘tumpah’ dan ‘mengamuk’ ke daratan. Dan yang lebih menghawatirkan adalah ancaman radiasi nuklir pasca gempa dan tsunami tersebut yang sekarang telah meracuni udara hingga radius 30 km dari pangkalan PLTN Fukushima Daiichi. Tidak hanya negri sakura yang menangis, bahkan dunia juga ikut berkabung.
Dalam perspektif manusia, bencana alam merupakan pemicu timbulnya ketidaknyamanan dalam tatanan kehidupan. Sebab bencana hanya akan berakhir dengan kekacauan, kehancuran, kesedihan, dan tentunya kematian. Demikianlah kodrat manusia untuk menolak adanya ‘pengingkaran’ alam atas sunnahnya dalam memberi manfaat, bukan sebaliknya. Akan tetapi, jikalah kemudian kita meninjau dari sudut pandang alamiah, maka pada hakikatnya tidak ada pihak yang tersalahkan. Alam akan terus berjalan dengan sunnahnya dan manusia akan tetap bertahan dengan keegoisannya sebagai sifat penolakan terhadap bencana. Dalam perspektif itu pulalah, kita sebagai manusia seharusnya memaknai bencana alam sebagai petanda tentang urgensi melakukan komunikasi yang lebih intens, berkelanjutan dan bersahabat dengan alam itu sendiri. Terus menerus mengutuki nasib tidak akan mampu menyelesaikan masalah. Yang lebih penting dari itu adalah menyadari dan mengambil sikap objektif atas berbagai musibah yang menimpa.
Pun demikian dengan Indonesia. Bencana alam menghampiri tanpa jeda. Belum kering airmata rakyat aceh atas musibah Tsunami, tangis warga Sidoardjo merintih pedih meratapi harta benda mereka yang ditenggelamkan lumpur Lapindo. Rekonstruksi di Jogjakarta akibat gempa pada mei 2006 belum usai, bumi Tasikmalaya dan Padang juga ikut berguncang hebat. Disusul dengan banjir Wasior dan lahar panas yang dimuntahkan Merapi menambah catatan penderitaan bangsa yang berlimpah kekayaan alam ini. Dan masih banyak lagi musibah yang telah diderita rakyat Indonesia. Andaikata musibah-musibah tersebut kita maknai hanya sebatas mala petaka yang berujung pada kekecewaan, maka sungguh merupakan sebuah kenaifan jika dibalik itu kita tidak menyadari keberadaan kesalingterikatan antara manusia dan alam yang telah diatur oleh sang pemilik semesta.
Meskipun bencana alam itu terjadi akibat 2 faktor, yakni oleh alam itu sendiri dan oleh ulah manusia, namun kita tidak dapat memungkiri bahwasanya bencana tetaplah bencana. Dapat menimpa siapa saja. Sejalan dengan itu, tentunya manusia harus menciptakan sebuah sarana komunikasi yang tepat dengan lingkungannya. Oleh karena alam hanya ‘membalas’ apa yang kita dilakukan terhadapnya. Dalam artian, alam merupakan faktor yang pasif, sedangkan manusia adalah yang masif. Terjadinya kesalahan komunikasi oleh manusia kepada alam, maka alam akan ‘menyampaikan’ sesuatu yang bukan tujuan atau bahkan yang tidak diinginkan oleh manusia.
Alhasil, kita harus belajar banyak dari bencana alam. Menata hati agar dapat bersabar menghadapi musibah. Membakar sifat egois dan ketamakan menjadi abu penyubur sifat rendah hati dan keikhlasan. Menumbuhkan solidaritas dangan tunas-tunas rasa syukur bagi sang Maha Pemberi musibah. Demikianlah buah-buah ranum hikmah dapat dipetik dan dinikmati sebagai penghias kehidupan yang fana ini. Perlu kita sadari bahwa keluhan terbaik yang kita miliki sekalipun tidak akan pernah dapat menyelesaikan masalah. Dan melalui bencana, alam telah memberikan banyak pelajaran. Persoalannya, mampukah kita memaknai salah satu “kearifan” alam ini; atau kita juga ingin terkubur bersama-sama dalam kehancuran dan penyesalan.?
semoga bermanfaat
salam sahabat pemimpi
Dalam perspektif manusia, bencana alam merupakan pemicu timbulnya ketidaknyamanan dalam tatanan kehidupan. Sebab bencana hanya akan berakhir dengan kekacauan, kehancuran, kesedihan, dan tentunya kematian. Demikianlah kodrat manusia untuk menolak adanya ‘pengingkaran’ alam atas sunnahnya dalam memberi manfaat, bukan sebaliknya. Akan tetapi, jikalah kemudian kita meninjau dari sudut pandang alamiah, maka pada hakikatnya tidak ada pihak yang tersalahkan. Alam akan terus berjalan dengan sunnahnya dan manusia akan tetap bertahan dengan keegoisannya sebagai sifat penolakan terhadap bencana. Dalam perspektif itu pulalah, kita sebagai manusia seharusnya memaknai bencana alam sebagai petanda tentang urgensi melakukan komunikasi yang lebih intens, berkelanjutan dan bersahabat dengan alam itu sendiri. Terus menerus mengutuki nasib tidak akan mampu menyelesaikan masalah. Yang lebih penting dari itu adalah menyadari dan mengambil sikap objektif atas berbagai musibah yang menimpa.
Pun demikian dengan Indonesia. Bencana alam menghampiri tanpa jeda. Belum kering airmata rakyat aceh atas musibah Tsunami, tangis warga Sidoardjo merintih pedih meratapi harta benda mereka yang ditenggelamkan lumpur Lapindo. Rekonstruksi di Jogjakarta akibat gempa pada mei 2006 belum usai, bumi Tasikmalaya dan Padang juga ikut berguncang hebat. Disusul dengan banjir Wasior dan lahar panas yang dimuntahkan Merapi menambah catatan penderitaan bangsa yang berlimpah kekayaan alam ini. Dan masih banyak lagi musibah yang telah diderita rakyat Indonesia. Andaikata musibah-musibah tersebut kita maknai hanya sebatas mala petaka yang berujung pada kekecewaan, maka sungguh merupakan sebuah kenaifan jika dibalik itu kita tidak menyadari keberadaan kesalingterikatan antara manusia dan alam yang telah diatur oleh sang pemilik semesta.
Meskipun bencana alam itu terjadi akibat 2 faktor, yakni oleh alam itu sendiri dan oleh ulah manusia, namun kita tidak dapat memungkiri bahwasanya bencana tetaplah bencana. Dapat menimpa siapa saja. Sejalan dengan itu, tentunya manusia harus menciptakan sebuah sarana komunikasi yang tepat dengan lingkungannya. Oleh karena alam hanya ‘membalas’ apa yang kita dilakukan terhadapnya. Dalam artian, alam merupakan faktor yang pasif, sedangkan manusia adalah yang masif. Terjadinya kesalahan komunikasi oleh manusia kepada alam, maka alam akan ‘menyampaikan’ sesuatu yang bukan tujuan atau bahkan yang tidak diinginkan oleh manusia.
Alhasil, kita harus belajar banyak dari bencana alam. Menata hati agar dapat bersabar menghadapi musibah. Membakar sifat egois dan ketamakan menjadi abu penyubur sifat rendah hati dan keikhlasan. Menumbuhkan solidaritas dangan tunas-tunas rasa syukur bagi sang Maha Pemberi musibah. Demikianlah buah-buah ranum hikmah dapat dipetik dan dinikmati sebagai penghias kehidupan yang fana ini. Perlu kita sadari bahwa keluhan terbaik yang kita miliki sekalipun tidak akan pernah dapat menyelesaikan masalah. Dan melalui bencana, alam telah memberikan banyak pelajaran. Persoalannya, mampukah kita memaknai salah satu “kearifan” alam ini; atau kita juga ingin terkubur bersama-sama dalam kehancuran dan penyesalan.?
semoga bermanfaat
salam sahabat pemimpi
Senin, 11 April 2011
ketika 'cukup' itu tak terhingga
Adakah yang mampu membatasi sebuah kata cukup? Seberapa banyak disebut cukup itu?
Suatu ketika seorang istri berkata kepada suami tercinta, "bang, tanpa terasa ternyata sudah 5 tahun kita berumah tangga. Saling menguatkan menjalani jerih payah kehidupan. Bahagia sekali saya memiliki seorang suami seperti abang." Sang suami yang baru saja pulang dari usaha menarik gerobak sayur, bermandikan keringat, sirna dengan sambutan kata-kata dari sang istri. "Abang juga bangga bisa memetik bunga nan harum dan setia seperti dinda" balas sang suami merajuk. "Terima kasih abangku sayang" si istri tersipu memanja. "Tapi bang, alangkah bahagianya lagi jika kita bisa memiliki rumah sendiri, walaupun hanya sebuah gubuk. Membesarkan 2 anak kita ini tanpa harus memikirkan uang kontrakan." lanjut si istri. Dengan tersenyum kecil sang suami menanggapi, "baiklah istriku, aku akan bekerja lebih keras lagi agar dapat membeli rumah pribadi." Sepertinya ia faham bagaimana perasaan si istri yang menginginkan tinggal di rumah sendiri.
Waktu terus berjalan. sang suami benar-benar berusaha siang malam menjajakan sayuran dari rumah ke rumah, gang demi gang, beberapa desa dilewati. Hingga di usia ke 7 dari perkawinan mereka, akhirnya rumah kecil impian dapat mereka miliki. "alhamdulillah ya bang, akhirnya kita punya rumah" begitu si istri mengawali percakapan sambil membawakan secangkir kopi. "iya dik, usaha abang tidak sia-sia." "Tapi bang, mungkin akan lebih bahagia keluarga ini jika seandainya kita punya kendaraan, meski hanya sebuah motor butut." wanita itu berkata lagi sembari memijat-mijat bahu suaminya. "Ada benarnya juga, kalau kita punya kendaraan, kita bisa kemana-mana dengan mudah. Baiklah, abang akan berusaha lagi dengan giat supaya kita dapat membeli motor." Suami mengangkat cangkir lalu meneguk kopi buatan istri tercintanya.
Singkat cerita, setahun kemudian, uang yang dikumpulkan untuk membeli motor telah mencukupi. Dan 2 hari berikutnya, sebuah sepeda motor berdiri megah di depan rumah keluarga yang sedang berbahagia itu. "Sungguh, abang adalah suami nomor satu di dunia" puji si istri. "Terima kasih sayangku" sahut sang suami menerima pujian. "Sekarang abang bisa boncengin aku ke pasar, dan mengantarkan anak-anak ke sekolah" senyum si istri merekah. "Tapi bang, sepertinya rumah kita ini sudah terlalu sempit untuk menampung anak-anak yang semakin besar. apa mungkin kita bisa membangun rumah yang lebih besar lagi?" goda si istri. "Pasti bisa kalau kita punya cukup uang. Nanti abang akan kembangkan usaha kita ini. mudah-mudahan kita bisa miliki rumah yang lebih layak.
4 tahun sudah berlalu. usaha penjualan sayur itu kini berganti dengan menjual pakaian. dan mereka telah memiliki 3 toko. dan tak lama lagi mereka akan pindah rumah ke sebuah kawasan elite di pinggir kota. Dan mobil mewahpun telah mereka miliki. "Tidak disangka ya bang, ternyata kita juga bisa mewujudkan mimpi memiliki rumah yang indah seperti ini." Si istri terkagum ketika pertama kali menginjakkan kaki di rumah baru mereka. Beberapa hari rumah itu ditempati, si istri berkata menjelang tidur, "nyaman ya bang rumahnya." "pastinya lebih nyaman dari rumah kita yang dulu" sahut suami. "Tahu nggak bang, sejak kecil saya ingin sekali berjalan-jalan keluar negri. terutama ke Prancis. Menikmati indahnya menara Eiffel yang kata orang adalah tempat paling romantis." istrinya berkata dengan penuh harap. "Kalau begitu usaha abang harus di tingkatkan lagi, supaya kita punya cukup uang untuk kesana."ucap suami menimpali kata-kata istrinya.
Belum genap 3 tahun setelah pembelian rumah baru, suami kembali ke rumah dengan wajah berseri-seri berkata kepada istrinya. "Sayang, akhirnya abang sudah memesan 4 tiket pesawat untuk berlibur sekeluarga ke Prancis . Si istri terkejut, "benarkah bang? waaah, senangnya bisa berjalan-jalan ke luar negri. terlebih ke prancis." jawab si istri.
Belum juga sampai di rumah sepulang dari paris, si istri kembali meracau. "Bagaimana, enakkan jalan-jalan ke Paris? sungguh kota yang eksotis dan anggun. Aku jadi tahu sedikit-sedikit bahasa prancis. Merci, terima kasih. Je vous en prie, sama-sama. Au revoir, selamat tinggal. dan lain lain. Abang juga kan?" lanjutnya, "tapi bang, ternyata tetangga kita sudah sangat sering bolak balik ke berbagai negara. Dia juga memiliki villa mewah di kawasan asri di pinggir gunung. Betapa canggihnya, plat mobil mereka saja harus di impor. Masa' kita kalah sama tetanga kita itu bang." Sang suami mulai memperlihatkan raut muka masam.
"Istriku, sungguh hingga saat ini tidak ada seorang wanitapun yang lebih kucintai setelah ibuku selain engkau. belasan tahun sudah kita membina rumah tangga. Tapi tahukah engkau sayangku, setiap kali engkau meminta sesuatu, aku akan berusaha untuk memenuhinya, bahkan terkadang menjadi beban. apakah tidak cukup dengan apa yang kita miliki sekarang? Sadarlah bahwa kita dulu tidak memiliki apa-apa? Mulai dari mengontrak rumah, akhirnya dapat membeli rumah sendiri. Kemudian engkau meminta membeli motor, lantas mobil, kemudian rumah mewah, dan yang terakhir aku telah penuhi keinginanmu untuk berjalan-jalan ke Paris. apa itu tidak cukup juga? sudahlah, aku tidak sanggup memaksakan diri lagi untuk penuhi keinginanmu. maafkan sayangku" sang suami berjalan cepat memasuki rumah lalu meristirahat.
Sahabatku, inilah hidup. kita terlalu sulit mengucapkan kata 'cukup', yang ada hanyalah kata 'kurang'. Gaji yang kurang banyak, makan yang kurang enak, orang tua yang kurang baik, anak yang kurang bakti, dan berbagai kekurangan yang lain. Semua terasa kurang. Lalu, berapakah cukup itu? coba kita renungkan perjalanan hidup ini jika semuanya serba kekurangan. hampir tidak ada celah bagi kta untuk merasa puas dengan apa yang telah Tuhan berikan. Sekarang, mulailah berbesar hati untuk mengubah kata 'kurang' menjadi 'cukup', mudah-mudahan kita dapat mensyukuri apa yang kita miliki disamping terus berusaha untuk memperoleh yang lebih baik.
terima kasih, semoga tulisan ini bermakna.
salam sahabat pemimpi.
Suatu ketika seorang istri berkata kepada suami tercinta, "bang, tanpa terasa ternyata sudah 5 tahun kita berumah tangga. Saling menguatkan menjalani jerih payah kehidupan. Bahagia sekali saya memiliki seorang suami seperti abang." Sang suami yang baru saja pulang dari usaha menarik gerobak sayur, bermandikan keringat, sirna dengan sambutan kata-kata dari sang istri. "Abang juga bangga bisa memetik bunga nan harum dan setia seperti dinda" balas sang suami merajuk. "Terima kasih abangku sayang" si istri tersipu memanja. "Tapi bang, alangkah bahagianya lagi jika kita bisa memiliki rumah sendiri, walaupun hanya sebuah gubuk. Membesarkan 2 anak kita ini tanpa harus memikirkan uang kontrakan." lanjut si istri. Dengan tersenyum kecil sang suami menanggapi, "baiklah istriku, aku akan bekerja lebih keras lagi agar dapat membeli rumah pribadi." Sepertinya ia faham bagaimana perasaan si istri yang menginginkan tinggal di rumah sendiri.
Waktu terus berjalan. sang suami benar-benar berusaha siang malam menjajakan sayuran dari rumah ke rumah, gang demi gang, beberapa desa dilewati. Hingga di usia ke 7 dari perkawinan mereka, akhirnya rumah kecil impian dapat mereka miliki. "alhamdulillah ya bang, akhirnya kita punya rumah" begitu si istri mengawali percakapan sambil membawakan secangkir kopi. "iya dik, usaha abang tidak sia-sia." "Tapi bang, mungkin akan lebih bahagia keluarga ini jika seandainya kita punya kendaraan, meski hanya sebuah motor butut." wanita itu berkata lagi sembari memijat-mijat bahu suaminya. "Ada benarnya juga, kalau kita punya kendaraan, kita bisa kemana-mana dengan mudah. Baiklah, abang akan berusaha lagi dengan giat supaya kita dapat membeli motor." Suami mengangkat cangkir lalu meneguk kopi buatan istri tercintanya.
Singkat cerita, setahun kemudian, uang yang dikumpulkan untuk membeli motor telah mencukupi. Dan 2 hari berikutnya, sebuah sepeda motor berdiri megah di depan rumah keluarga yang sedang berbahagia itu. "Sungguh, abang adalah suami nomor satu di dunia" puji si istri. "Terima kasih sayangku" sahut sang suami menerima pujian. "Sekarang abang bisa boncengin aku ke pasar, dan mengantarkan anak-anak ke sekolah" senyum si istri merekah. "Tapi bang, sepertinya rumah kita ini sudah terlalu sempit untuk menampung anak-anak yang semakin besar. apa mungkin kita bisa membangun rumah yang lebih besar lagi?" goda si istri. "Pasti bisa kalau kita punya cukup uang. Nanti abang akan kembangkan usaha kita ini. mudah-mudahan kita bisa miliki rumah yang lebih layak.
4 tahun sudah berlalu. usaha penjualan sayur itu kini berganti dengan menjual pakaian. dan mereka telah memiliki 3 toko. dan tak lama lagi mereka akan pindah rumah ke sebuah kawasan elite di pinggir kota. Dan mobil mewahpun telah mereka miliki. "Tidak disangka ya bang, ternyata kita juga bisa mewujudkan mimpi memiliki rumah yang indah seperti ini." Si istri terkagum ketika pertama kali menginjakkan kaki di rumah baru mereka. Beberapa hari rumah itu ditempati, si istri berkata menjelang tidur, "nyaman ya bang rumahnya." "pastinya lebih nyaman dari rumah kita yang dulu" sahut suami. "Tahu nggak bang, sejak kecil saya ingin sekali berjalan-jalan keluar negri. terutama ke Prancis. Menikmati indahnya menara Eiffel yang kata orang adalah tempat paling romantis." istrinya berkata dengan penuh harap. "Kalau begitu usaha abang harus di tingkatkan lagi, supaya kita punya cukup uang untuk kesana."ucap suami menimpali kata-kata istrinya.
Belum genap 3 tahun setelah pembelian rumah baru, suami kembali ke rumah dengan wajah berseri-seri berkata kepada istrinya. "Sayang, akhirnya abang sudah memesan 4 tiket pesawat untuk berlibur sekeluarga ke Prancis . Si istri terkejut, "benarkah bang? waaah, senangnya bisa berjalan-jalan ke luar negri. terlebih ke prancis." jawab si istri.
Belum juga sampai di rumah sepulang dari paris, si istri kembali meracau. "Bagaimana, enakkan jalan-jalan ke Paris? sungguh kota yang eksotis dan anggun. Aku jadi tahu sedikit-sedikit bahasa prancis. Merci, terima kasih. Je vous en prie, sama-sama. Au revoir, selamat tinggal. dan lain lain. Abang juga kan?" lanjutnya, "tapi bang, ternyata tetangga kita sudah sangat sering bolak balik ke berbagai negara. Dia juga memiliki villa mewah di kawasan asri di pinggir gunung. Betapa canggihnya, plat mobil mereka saja harus di impor. Masa' kita kalah sama tetanga kita itu bang." Sang suami mulai memperlihatkan raut muka masam.
"Istriku, sungguh hingga saat ini tidak ada seorang wanitapun yang lebih kucintai setelah ibuku selain engkau. belasan tahun sudah kita membina rumah tangga. Tapi tahukah engkau sayangku, setiap kali engkau meminta sesuatu, aku akan berusaha untuk memenuhinya, bahkan terkadang menjadi beban. apakah tidak cukup dengan apa yang kita miliki sekarang? Sadarlah bahwa kita dulu tidak memiliki apa-apa? Mulai dari mengontrak rumah, akhirnya dapat membeli rumah sendiri. Kemudian engkau meminta membeli motor, lantas mobil, kemudian rumah mewah, dan yang terakhir aku telah penuhi keinginanmu untuk berjalan-jalan ke Paris. apa itu tidak cukup juga? sudahlah, aku tidak sanggup memaksakan diri lagi untuk penuhi keinginanmu. maafkan sayangku" sang suami berjalan cepat memasuki rumah lalu meristirahat.
Sahabatku, inilah hidup. kita terlalu sulit mengucapkan kata 'cukup', yang ada hanyalah kata 'kurang'. Gaji yang kurang banyak, makan yang kurang enak, orang tua yang kurang baik, anak yang kurang bakti, dan berbagai kekurangan yang lain. Semua terasa kurang. Lalu, berapakah cukup itu? coba kita renungkan perjalanan hidup ini jika semuanya serba kekurangan. hampir tidak ada celah bagi kta untuk merasa puas dengan apa yang telah Tuhan berikan. Sekarang, mulailah berbesar hati untuk mengubah kata 'kurang' menjadi 'cukup', mudah-mudahan kita dapat mensyukuri apa yang kita miliki disamping terus berusaha untuk memperoleh yang lebih baik.
terima kasih, semoga tulisan ini bermakna.
salam sahabat pemimpi.
Jumat, 29 Oktober 2010
ku "bangga" dengan bangsaku
"bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya", begitulah pribahasa yang sejak dulu kita kenal.
hanya saja, kebanyakan orang yg mengakui sebagai rakyat sebuah bangsa tertentu tidak mengenal sejarah bangsanya sendiri. itulah sebab terbesar mengapa kemerosotan bangsanya terus berlanjut. ketidakfahaman akan pengalaman hidup para leluhur bangsanya sendiri.
hanya saja, kebanyakan orang yg mengakui sebagai rakyat sebuah bangsa tertentu tidak mengenal sejarah bangsanya sendiri. itulah sebab terbesar mengapa kemerosotan bangsanya terus berlanjut. ketidakfahaman akan pengalaman hidup para leluhur bangsanya sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)