gairah dalam bermimpi

Terima kasih telah bergabung dalam jejak para pemimpi, semoga anda dapat merasakan gairah disetiap jengkalnya.

Laman

Rabu, 13 April 2011

Mengomunikasikan bencana alam

Masih segar dalam ingatan kita musibah besar yang menimpa Jepang pada 11 maret yang lalu. Gempa yang berkekuatan 8,9 skala richter di susul dengan tsunami tersebut memakan korban lebih dari 10.000 jiwa dan sekitar 10.000 lainnya masih belum diketahui keberadaannya. Miyagi, Iwate dan beberapa kota yang lain telah luluh lantak akibat air laut yang ‘tumpah’ dan ‘mengamuk’ ke daratan. Dan yang lebih menghawatirkan adalah ancaman radiasi nuklir pasca gempa dan tsunami tersebut yang sekarang telah meracuni udara hingga radius 30 km dari pangkalan PLTN Fukushima Daiichi. Tidak hanya negri sakura yang menangis, bahkan dunia juga ikut berkabung.
Dalam perspektif manusia, bencana alam merupakan pemicu timbulnya ketidaknyamanan dalam tatanan kehidupan. Sebab bencana hanya akan berakhir dengan kekacauan, kehancuran, kesedihan, dan tentunya kematian. Demikianlah kodrat manusia untuk menolak adanya ‘pengingkaran’ alam atas sunnahnya dalam memberi manfaat, bukan sebaliknya. Akan tetapi, jikalah kemudian kita meninjau dari sudut pandang alamiah, maka pada hakikatnya tidak ada pihak yang tersalahkan. Alam akan terus berjalan dengan sunnahnya dan manusia akan tetap bertahan dengan keegoisannya sebagai sifat penolakan terhadap bencana. Dalam perspektif itu pulalah, kita sebagai manusia seharusnya memaknai bencana alam sebagai petanda tentang urgensi melakukan komunikasi yang lebih intens, berkelanjutan dan bersahabat dengan alam itu sendiri. Terus menerus mengutuki nasib tidak akan mampu menyelesaikan masalah. Yang lebih penting dari itu adalah menyadari dan mengambil sikap objektif atas berbagai musibah yang menimpa.
Pun demikian dengan Indonesia. Bencana alam menghampiri tanpa jeda. Belum kering airmata rakyat aceh atas musibah Tsunami, tangis warga Sidoardjo merintih pedih meratapi harta benda mereka yang ditenggelamkan lumpur Lapindo. Rekonstruksi di Jogjakarta akibat gempa pada mei 2006 belum usai, bumi Tasikmalaya dan Padang juga ikut berguncang hebat. Disusul dengan banjir Wasior dan lahar panas yang dimuntahkan Merapi menambah catatan penderitaan bangsa yang berlimpah kekayaan alam ini. Dan masih banyak lagi musibah yang telah diderita rakyat Indonesia. Andaikata musibah-musibah tersebut kita maknai hanya sebatas mala petaka yang berujung pada kekecewaan, maka sungguh merupakan sebuah kenaifan jika dibalik itu kita tidak menyadari keberadaan kesalingterikatan antara manusia dan alam yang telah diatur oleh sang pemilik semesta.
Meskipun bencana alam itu terjadi akibat 2 faktor, yakni oleh alam itu sendiri dan oleh ulah manusia, namun kita tidak dapat memungkiri bahwasanya bencana tetaplah bencana. Dapat menimpa siapa saja. Sejalan dengan itu, tentunya manusia harus menciptakan sebuah sarana komunikasi yang tepat dengan lingkungannya. Oleh karena alam hanya ‘membalas’ apa yang kita dilakukan terhadapnya. Dalam artian, alam merupakan faktor yang pasif, sedangkan manusia adalah yang masif. Terjadinya kesalahan komunikasi oleh manusia kepada alam, maka alam akan ‘menyampaikan’ sesuatu yang bukan tujuan atau bahkan yang tidak diinginkan oleh manusia.
Alhasil, kita harus belajar banyak dari bencana alam. Menata hati agar dapat bersabar menghadapi musibah. Membakar sifat egois dan ketamakan menjadi abu penyubur sifat rendah hati dan keikhlasan. Menumbuhkan solidaritas dangan tunas-tunas rasa syukur bagi sang Maha Pemberi musibah. Demikianlah buah-buah ranum hikmah dapat dipetik dan dinikmati sebagai penghias kehidupan yang fana ini. Perlu kita sadari bahwa keluhan terbaik yang kita miliki sekalipun tidak akan pernah dapat menyelesaikan masalah. Dan melalui bencana, alam telah memberikan banyak pelajaran. Persoalannya, mampukah kita memaknai salah satu “kearifan” alam ini; atau kita juga ingin terkubur bersama-sama dalam kehancuran dan penyesalan.?

semoga bermanfaat
salam sahabat pemimpi

2 komentar:

  1. memang harus demikian, memaknai segala 'pemberian' tuhan meskipun dalam bentuk bencana.
    okelah bro...

    BalasHapus