Hari itu terik sekali. Matahari seakan kian dekat saja. berbulir-bulir keringat berjatuhan. ditambah lagi 'pekikan' kendaraan yang meraung-raung 'pesakitan'. Jangan kau tanya soal debu di kota ini, berhamburan di udara bahkan hampir mengalahkan jumlah molekul 02. sepertinya tanah yang kini kuinjak sudah sangat tidak tahan diperlakukan sedemikian rupa. kulirik sedikit pamflet besar di depan toko seberang, PASAR SENEN JAKARTA PUSAT, tulisnya.
"kak, kasihani saya, sejak kemarin belum makan" suara itu membuatku berpaling ke sebelah kanan, mengurung niat beranjak masuk agkot. Kulihat seorang anak kecil menggunakan pakaian kumuh, rambut acak-acakan, wajah coreng moreng, dan perempuan. "kasihani saya kak, saya tidak punya uang untuk beli makanan", ibanya lagi berharap aku mengeluarkan receh(jika perlu lembar 50.000), lalu menyerahkan padanya. "kamu belum makan? orang tuamu kemana?" anak itu hanya cemberut, seakan tak ingin menjawab. "hmm.. baiklah, ayo ikut kakak, kita beli nasi di warung sana" aku melangkah menuju warung nasi terdekat. saat kutolehkan kepala ke belakang, ternyata gadis kecil itu tak mengikuti. ia menatap dengan pandangan kosong.
"ayo, katanya kamu belum makan. sini kakak beliin. kamu pilih lauknya sendiri" ucapku padanya yang mematung. "kenapa? kamu tidak suka makan disini? kita cari warung lain?" tanyaku aneh. dia masih saja memegang sebuah plastik bungkus permen yang ia gunakan untuk menampung 'recehan' orang yang berbelas kasih. karena aku harus buru-buru, kugandeng tangannya ke warung itu. lalu memesan sebungkus nasi.
"Sudah kan? sana makanlah, nanti kamu sakit" ucapku sambil menyerahkan bungkusan nasi tersebut. dia hanya berdiam. juga tidak mengambil bungkusan nasi itu. "sebanarnya kak" ucapnya lirih sambil tetap menunduk. "saya berbohong kalau saya belum makan sejak kemarin. tadi pagi juga saya sudah makan, walau cuma sisa-sisa orang. dan itu saya makan bersama-sama dengan 16 teman yang lain. kami bertujuh belas semuanya berprofesi sebagai peminta-minta. kami berangkat pagi dan pulang malam. setiap orang punya wilayahnya masing-masing. setiap harinya kami harus memenuhi target om john(sebut saja demikian) yaitu 100 ribu. jika tidak kami akan dihukum." dia menarik nafas pelan. menegadah dan berkata lagi, "bahkan kami tidak boleh menerima apapun dari orang lain selain uang. makanya saya tidak berani menerima nasi dari kakak. karena kami tidak memiliki orang tua, jadi kami terpaksa menurut." sekejap kemudian gadis kecil itu nan tak berdosa meski ia berbohong(menurut kasihanku) itu berlari pergi. "terima kasih banyak ya kak" teriaknya bersama bayangannya yang menjauh dan menghilang.
aku masih menggenggam erat plastik dengan bungkusan nasi di dalamnya, yang ku beli beberapa saat yang lalu untuk seorang anak yang juga beberapa saat yang lalu menghilang pergi. lidahku bahkan terlalu kaku untuk sekedar berkata, "tidak apa-apa, ambil saja nasi ini, makan ditempat yang kira-kira om john tidak tahu".
tidak tahu mengapa, pengakuan anak tadi membuat parasaanku ngilu. di kota ini juga ternyata masih ada saja orang-orang tidak bertanggung jawab memanfaatkan anak-anak kecil yang sudah tak berkeluarga sebagai 'ladang' usahanya. memeras masa kanak-kanak mereka yang seharusnya dihabiskan dengan belajar dan bermain. merenggut paksa hak mereka untuk bebas. kejam sekali.
terik matahari seakan meredup, kurasa ia juga ingin meneteskan air mata melihat penderitaan berjuta-juta manusia lain yang bernasip seperti gadis kecil tadi. tapi bagi para kaum berdasi yang duduk di kursi malasnya di ruangan sana, matahari ini tetap terasa panas untuk sekedar melihat rakyatnya yang menderita. sepanas api neraka yang menjilat-jilat, ingin segera menelan mentah-mentah tubuh para pemakan hasil keringat rakyatnya sendiri.
semoga bacaan ini bermanfaat
salam para pemimpi
Andaikan ‘mimpi’ merupakan kata kerja, maka ia akan mendaki puncak cita tertinggi, menyelam ke dasar demi mendapatkan mutiara impian, membangun peradaban tak tertaklukkan, dan menorehkan sejarah keagungan. Jika ‘mimpi’ adalah kata benda, maka ia akan menjadi air bagi para musafir di tengah gurun perjuangan, menjadi angih yang menghembuskan para penjelajah menaklukkan daratan kesuksesan, dan menjadi peta bagi pencari harta karun terindah dalam peti kemulaan hidup. Itulah mimpi.
gairah dalam bermimpi
Terima kasih telah bergabung dalam jejak para pemimpi, semoga anda dapat merasakan gairah disetiap jengkalnya.
ini pengalaman pribadi lw wan?
BalasHapuskeren juga, jd pingin punya 'usaha' kayak om John..hehehe