Adakah yang mampu membatasi sebuah kata cukup? Seberapa banyak disebut cukup itu?
Suatu ketika seorang istri berkata kepada suami tercinta, "bang, tanpa terasa ternyata sudah 5 tahun kita berumah tangga. Saling menguatkan menjalani jerih payah kehidupan. Bahagia sekali saya memiliki seorang suami seperti abang." Sang suami yang baru saja pulang dari usaha menarik gerobak sayur, bermandikan keringat, sirna dengan sambutan kata-kata dari sang istri. "Abang juga bangga bisa memetik bunga nan harum dan setia seperti dinda" balas sang suami merajuk. "Terima kasih abangku sayang" si istri tersipu memanja. "Tapi bang, alangkah bahagianya lagi jika kita bisa memiliki rumah sendiri, walaupun hanya sebuah gubuk. Membesarkan 2 anak kita ini tanpa harus memikirkan uang kontrakan." lanjut si istri. Dengan tersenyum kecil sang suami menanggapi, "baiklah istriku, aku akan bekerja lebih keras lagi agar dapat membeli rumah pribadi." Sepertinya ia faham bagaimana perasaan si istri yang menginginkan tinggal di rumah sendiri.
Waktu terus berjalan. sang suami benar-benar berusaha siang malam menjajakan sayuran dari rumah ke rumah, gang demi gang, beberapa desa dilewati. Hingga di usia ke 7 dari perkawinan mereka, akhirnya rumah kecil impian dapat mereka miliki. "alhamdulillah ya bang, akhirnya kita punya rumah" begitu si istri mengawali percakapan sambil membawakan secangkir kopi. "iya dik, usaha abang tidak sia-sia." "Tapi bang, mungkin akan lebih bahagia keluarga ini jika seandainya kita punya kendaraan, meski hanya sebuah motor butut." wanita itu berkata lagi sembari memijat-mijat bahu suaminya. "Ada benarnya juga, kalau kita punya kendaraan, kita bisa kemana-mana dengan mudah. Baiklah, abang akan berusaha lagi dengan giat supaya kita dapat membeli motor." Suami mengangkat cangkir lalu meneguk kopi buatan istri tercintanya.
Singkat cerita, setahun kemudian, uang yang dikumpulkan untuk membeli motor telah mencukupi. Dan 2 hari berikutnya, sebuah sepeda motor berdiri megah di depan rumah keluarga yang sedang berbahagia itu. "Sungguh, abang adalah suami nomor satu di dunia" puji si istri. "Terima kasih sayangku" sahut sang suami menerima pujian. "Sekarang abang bisa boncengin aku ke pasar, dan mengantarkan anak-anak ke sekolah" senyum si istri merekah. "Tapi bang, sepertinya rumah kita ini sudah terlalu sempit untuk menampung anak-anak yang semakin besar. apa mungkin kita bisa membangun rumah yang lebih besar lagi?" goda si istri. "Pasti bisa kalau kita punya cukup uang. Nanti abang akan kembangkan usaha kita ini. mudah-mudahan kita bisa miliki rumah yang lebih layak.
4 tahun sudah berlalu. usaha penjualan sayur itu kini berganti dengan menjual pakaian. dan mereka telah memiliki 3 toko. dan tak lama lagi mereka akan pindah rumah ke sebuah kawasan elite di pinggir kota. Dan mobil mewahpun telah mereka miliki. "Tidak disangka ya bang, ternyata kita juga bisa mewujudkan mimpi memiliki rumah yang indah seperti ini." Si istri terkagum ketika pertama kali menginjakkan kaki di rumah baru mereka. Beberapa hari rumah itu ditempati, si istri berkata menjelang tidur, "nyaman ya bang rumahnya." "pastinya lebih nyaman dari rumah kita yang dulu" sahut suami. "Tahu nggak bang, sejak kecil saya ingin sekali berjalan-jalan keluar negri. terutama ke Prancis. Menikmati indahnya menara Eiffel yang kata orang adalah tempat paling romantis." istrinya berkata dengan penuh harap. "Kalau begitu usaha abang harus di tingkatkan lagi, supaya kita punya cukup uang untuk kesana."ucap suami menimpali kata-kata istrinya.
Belum genap 3 tahun setelah pembelian rumah baru, suami kembali ke rumah dengan wajah berseri-seri berkata kepada istrinya. "Sayang, akhirnya abang sudah memesan 4 tiket pesawat untuk berlibur sekeluarga ke Prancis . Si istri terkejut, "benarkah bang? waaah, senangnya bisa berjalan-jalan ke luar negri. terlebih ke prancis." jawab si istri.
Belum juga sampai di rumah sepulang dari paris, si istri kembali meracau. "Bagaimana, enakkan jalan-jalan ke Paris? sungguh kota yang eksotis dan anggun. Aku jadi tahu sedikit-sedikit bahasa prancis. Merci, terima kasih. Je vous en prie, sama-sama. Au revoir, selamat tinggal. dan lain lain. Abang juga kan?" lanjutnya, "tapi bang, ternyata tetangga kita sudah sangat sering bolak balik ke berbagai negara. Dia juga memiliki villa mewah di kawasan asri di pinggir gunung. Betapa canggihnya, plat mobil mereka saja harus di impor. Masa' kita kalah sama tetanga kita itu bang." Sang suami mulai memperlihatkan raut muka masam.
"Istriku, sungguh hingga saat ini tidak ada seorang wanitapun yang lebih kucintai setelah ibuku selain engkau. belasan tahun sudah kita membina rumah tangga. Tapi tahukah engkau sayangku, setiap kali engkau meminta sesuatu, aku akan berusaha untuk memenuhinya, bahkan terkadang menjadi beban. apakah tidak cukup dengan apa yang kita miliki sekarang? Sadarlah bahwa kita dulu tidak memiliki apa-apa? Mulai dari mengontrak rumah, akhirnya dapat membeli rumah sendiri. Kemudian engkau meminta membeli motor, lantas mobil, kemudian rumah mewah, dan yang terakhir aku telah penuhi keinginanmu untuk berjalan-jalan ke Paris. apa itu tidak cukup juga? sudahlah, aku tidak sanggup memaksakan diri lagi untuk penuhi keinginanmu. maafkan sayangku" sang suami berjalan cepat memasuki rumah lalu meristirahat.
Sahabatku, inilah hidup. kita terlalu sulit mengucapkan kata 'cukup', yang ada hanyalah kata 'kurang'. Gaji yang kurang banyak, makan yang kurang enak, orang tua yang kurang baik, anak yang kurang bakti, dan berbagai kekurangan yang lain. Semua terasa kurang. Lalu, berapakah cukup itu? coba kita renungkan perjalanan hidup ini jika semuanya serba kekurangan. hampir tidak ada celah bagi kta untuk merasa puas dengan apa yang telah Tuhan berikan. Sekarang, mulailah berbesar hati untuk mengubah kata 'kurang' menjadi 'cukup', mudah-mudahan kita dapat mensyukuri apa yang kita miliki disamping terus berusaha untuk memperoleh yang lebih baik.
terima kasih, semoga tulisan ini bermakna.
salam sahabat pemimpi.
Andaikan ‘mimpi’ merupakan kata kerja, maka ia akan mendaki puncak cita tertinggi, menyelam ke dasar demi mendapatkan mutiara impian, membangun peradaban tak tertaklukkan, dan menorehkan sejarah keagungan. Jika ‘mimpi’ adalah kata benda, maka ia akan menjadi air bagi para musafir di tengah gurun perjuangan, menjadi angih yang menghembuskan para penjelajah menaklukkan daratan kesuksesan, dan menjadi peta bagi pencari harta karun terindah dalam peti kemulaan hidup. Itulah mimpi.
gairah dalam bermimpi
Terima kasih telah bergabung dalam jejak para pemimpi, semoga anda dapat merasakan gairah disetiap jengkalnya.
mantap gan, tulisannya keren,
BalasHapusemang paling sulit itu merasa cukup, pasti ada aja maunya lagi dan lagi.
btw, thnx ya atas artikelnya..
ternyata lw buar blog wan..
BalasHapussiplah,
w setuju, kodrat manusia memang sulit untuk puas.
hum, memang kewajiban suami sih memenuhi kebutuhan istri. tapi kalo istrinya ga da syukur? :p
BalasHapus